Analisis Putusan tentang Permohonan Pailit oleh Pekerja akibat Tidak Terpenuhinya Hak Pesangon secara Keseluruhan Ditinjau dari Ketentuan Ketenagakerjaan dan Kepailitan
DOI:
https://doi.org/10.62383/hukum.v2i5.648Keywords:
Bankruptcy Law, Industrial Relations Court, Labor Law, Severance Pay, Termination of EmploymentAbstract
Indonesia is a country with a high level of labor-related issues, particularly in relation to the protection and fulfillment of workers’ rights. Common problems include termination of employment, unpaid wages, and inadequate severance payments. One such case is the bankruptcy petition filed against PT. Setiaji Mandiri, which serves as the focus of this study. The objective of this research is to analyze the legal considerations behind the Commercial Court’s decision to grant the bankruptcy request and its implications for labor rights. This study employs a normative juridical method by analyzing relevant legislation and court rulings, particularly referring to Law No. 37 of 2004 on Bankruptcy and Suspension of Debt Payment Obligations, and Law No. 2 of 2004 on Industrial Relations Dispute Settlement. The findings show that PT. Setiaji Mandiri had indeed made efforts to settle its financial obligations, but these efforts were deemed insufficient by the court, leading to the acceptance of the bankruptcy petition. However, a key issue that emerged was the absence of debt registration with the Industrial Relations Court (PHI), which is mandated by law in cases involving employment disputes. According to the prevailing labor laws, the PHI must first determine the amount of severance pay owed to employees, which can then be used as a reference in bankruptcy proceedings. The study concludes that there was a procedural oversight in the handling of labor claims in this bankruptcy case. It emphasizes the importance of adhering to legal mechanisms that protect workers’ rights and recommends stricter coordination between commercial and labor courts to prevent similar issues in the future.
Downloads
References
Abdul Khakim. (2007). Pengantar hukum ketenagakerjaan Indonesia: Berdasarkan Undang-Undang No. 13 Tahun 2003. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.
Abdul Rachmad Budiono. (2009). Hukum perburuhan. Jakarta: PT Indeks.
Agusfian Wahab, et al. (2003). Dasar-dasar hukum perburuhan. Jakarta: PT Grafindo Persada.
Ahmad Yani, & Widjaja, G. (2002). Seri hukum bisnis: Kepailitan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Aloewir, T. F. (1996). Naskah akademis tentang pemutusan hubungan kerja dan penyelesaian perselisihan hubungan industrial (Cet. 11). Jakarta: BPHN.
Andini, M. A. (2017). Prinsip pengawasan hubungan kerja di bidang pengupahan dalam rangka perlindungan pekerja/buruh. Jurnal Hukum, Universitas Jember.
Asri Wijayanti. (2010). Hukum ketenagakerjaan pasca reformasi. Jakarta: Sinar Grafika.
Bandingkan, S. (1984). Peningkatan produktivitas kerja dalam pelaksanaan HIP. Jakarta: Lokakarya Puspi Yadin.
Departemen Pendidikan Nasional. (2011). Kamus besar bahasa Indonesia (Edisi ke-4). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Dina Susiani. (2020). Hukum ketenagakerjaan. Jawa Timur: CV Pustaka Abadi.
Djumadi. (2006). Hukum perburuhan: Perjanjian kerja. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Hartono Widodo, & Judiantoro. (1992). Segi hukum penyelesaian perselisihan perburuhan. Jakarta: Rajawali Pers.
Imam Soepomo. (1983). Hukum perburuhan bidang hubungan kerja. Jakarta: Djambatan.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. (1995). Jakarta: Balai Pustaka.
Kusbianto, H., & Silalahi, D. H. (2020). Hukum perburuhan. Medan: Enam Media.
Maimun. (2004). Hukum ketenagakerjaan: Suatu pengantar. Jakarta: Pradnya Paramita.
Mardiasmo. (2018). Perpajakan (Edisi terbaru). Yogyakarta: CV Andi Offset.
Maruf, M., et al. (2023). Literature review: Pengaruh upah terhadap kinerja pada karyawan pusat perbelanjaan di Surabaya. Greenomika, 5(2). https://doi.org/10.55732/unu.gnk.2023.05.2.2
Mulyadi. (2001). Akuntansi manajemen: Konsep, manfaat, dan rekayasa. Jakarta: Salemba Empat.
Payaman J. Simanjuntak. (2000). Peranan serikat pekerja dan paradigma baru hubungan industrial di Indonesia. Jakarta: Himpunan Pembina Sumber Daya Manusia Indonesia.
R. Subekti. (1995). Pokok-pokok hukum dagang. Jakarta: Intermasa.
Sinaga, N. A. (2017). Peranan perjanjian kerja dalam mewujudkan terlaksananya hak dan kewajiban para pihak dalam hubungan ketenagakerjaan. Jurnal Ilmiah Hukum Dirgantara, 7(2).
Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) No. 2 Tahun 2019.
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial.
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (UU KPKPU).
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja menjadi Undang-Undang. https://doi.org/10.32528/nms.v2i4.312
Windi Arista. (2022). Pergantian hak pesangon bagi pekerja yang di-PHK berdasarkan Pasal 156 Perppu Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja. Jurnal Hukum Tri Pantang, 8(2). https://doi.org/10.51517/jhtp.v8i2.180
Yahya Harahap, M. (1986). Segi-segi hukum perjanjian. Bandung: Alumni.
Zaeni Asyhadie. (2007). Hukum kerja: Hukum ketenagakerjaan bidang hubungan kerja. Jakarta: Rajawali Pers.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Jurnal Hukum, Administrasi Publik dan Negara

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.


