Regulasi Hukum Siber dan Pembatasan Kebebasan Berekspresi

Studi Perbandingan antara Indonesia dan Singapura

Authors

  • Addinda Khairunnazah Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten
  • Ahmad Fikri Hilal Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten
  • Alfath Fadila Mursyid Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten
  • Fatimatu Zahra Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten
  • Ade Fartini Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

DOI:

https://doi.org/10.62383/hukum.v2i6.718

Keywords:

cyber law regulation, UU ITE, Cybersecurity Act, POFMA, freedom of expression, risk-based approach, law enforcement, legal comparison

Abstract

The rapid development of information and communication technology has driven the transformation of human activities into the digital realm, making cyber law regulation an essential need to govern activities in the virtual world. This research discusses the comparison of cyber law regulations in Indonesia and Singapore, specifically the Electronic Information and Transactions Law (UU ITE) and the Cybersecurity Act as well as the Protection from Online Falsehoods and Manipulation Act (POFMA), focusing on legal philosophy, enforcement mechanisms, and the protection of freedom of expression. A normative legal research method with a comparative approach is used to analyze the normative context, law enforcement implementation, and the social impacts of both regulations. The research findings indicate that Indonesia adopts a repressive legal approach with fragmented enforcement and challenges related to digital literacy, which leads to potential restrictions on freedom of expression. In contrast, Singapore applies a risk-based regulatory framework with centralized coordination and a more adaptive mitigation approach, aiming to balance content control with the protection of human rights. This research recommends reforms and strengthening of cyber law regulations in Indonesia to improve law enforcement effectiveness and ensure proportional freedom of expression in the digital era.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Alharun, S. J., & Universitas Bengkulu. (2025). No title. 10(11).

Amelia, S. (2024). Ruang cyber vs kebebasan berpendapat: Menyeimbangkan regulasi dan ekspresi di era digital banyak manfaat bagi masyarakat, terdapat juga kekhawatiran yang valid. 4(2). https://doi.org/10.14421/d3fywx87

Antaguna, N. G., Agung, A., & Laksmi, S. (2023). Pembatasan kebebasan berpendapat dan berekspresi di sosial media berdasarkan peraturan perundang-undangan nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). 17. https://doi.org/10.22225/kw.17.2.2023.138-146

Ayu, R. O. (2025). Tantangan penerapan konsep negara hukum dalam era digital: Studi kasus UU ITE dan kebebasan berekspresi. 3(4), 2408-2415. https://doi.org/10.31004/jerkin.v3i4.893

Bambang, I., Najwa, N., & Rahmadani, M. R. (2025). Kebebasan berbicara di media sosial: Antara regulasi dan ekspresi. 1, 87-96. https://doi.org/10.55606/srj-yappi.v3i1.1692

Ginting, Y. P., Tumbelaka, A. C. G., Yogeta, A., Tjahaja, D. O., Hambran, B. F., & Gani, M. A. (2024). Sosialisasi perbandingan hukum pidana: Tindak pidana ITE di Indonesia dan Singapura. 03(04), 429-442. https://doi.org/10.58812/jpws.v3i04.1120

Hasanah, U. (2009). Eksistensi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dalam perspektif politik hukum.

Indonesia, Di. (2020). Qigipoy, di Indonesia, kasus penipuan dominasi kejahatan 'cyber'. Ubsi Cyber, Diakses Tanggal 29 September 2022. 1(1), 1-38.

Llp, M. (2023). Update on Singapore's Cybersecurity (Amendment) Bill 2023. 2025.

Natamiharja, R., Sabrita, R. W., Sabatir, F., Saputra, M. F., & Situmorang, Y. P. (2022). Hukum penyelesaian International Organization. Retrieved from http://repository.lppm.unila.ac.id/48038/1/HPSI.pdf

Ni'mah, Z. H. (2022). Perbandingan peraturan penegakan hukum atas kejahatan data pribadi di Indonesia dan Singapura.

Olivia, D. (2020). Law jurnal asasi manusia ringkasan pelaksanaan hak kebebasan berekspresi, tanpa adanya rasa takut atau campur tangan penting untuk eksis di tengah-tengah masyarakat yang demokratis, di mana setiap orang mendapatkan akses dalam menikmati hak asasi manusia. 1(2). https://doi.org/10.36355/rlj.v1i2.409

Rahmayanti, Y., & Awalunisah, S. (2023). The importance of the role of the family in instructing anti-corruption education. Jurnal Pembangunan Daerah, 1, 8-15.

Maranay, R. A. R., & Marsal, I. (2024). Pengaruh sistem hukum dunia terhadap pembentukan peraturan perundang-undangan di Indonesia. Birokrasi: JURNAL ILMU HUKUM DAN TATA NEGARA, 2(4), 245-251. https://doi.org/10.55606/birokrasi.v2i4.1614

Raya, I. P. (2024). Komparasi yuridis kebebasan berpendapat dalam perspektif hukum di Indonesia dan Singapura. 4, 5353-5370.

Roqib, M., Anugraha, H., Putra, S., & Noris, A. (2018). Hak atas kebebasan berekspresi dan berpendapat di Indonesia dengan di Amerika Serikat.

Wibowo, A., Kom, M., & Si, M. (n.d.). Hukum siber keamanan informasi.

Downloads

Published

2025-11-18

How to Cite

Addinda Khairunnazah, Ahmad Fikri Hilal, Alfath Fadila Mursyid, Fatimatu Zahra, & Ade Fartini. (2025). Regulasi Hukum Siber dan Pembatasan Kebebasan Berekspresi: Studi Perbandingan antara Indonesia dan Singapura. Jurnal Hukum, Administrasi Publik Dan Negara, 2(6), 149–161. https://doi.org/10.62383/hukum.v2i6.718

Similar Articles

<< < 5 6 7 8 9 10 11 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.