Pengembangan Desa Wisata Alam Lubuk Langkap sebagai Peningkat Kesejahteraan Masyarakat di Bengkulu Selatan

Authors

  • Alfiansyah Alfiansyah Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu
  • Angrean Sahroni Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu
  • Inuki Yudi Marta Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu
  • Ilham Tirta Saputra Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu
  • Reza Agung Pratama Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu
  • Arum Puspitasari Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu

DOI:

https://doi.org/10.62383/tamasya.v2i3.743

Keywords:

Community, Ecotourism, Entrepreneurship Tourism, Integrated Management, Lubuk Langkap, South Bengkulu

Abstract

This research positions tourism as a key driver for rural economic transformation via the Community-Based Ecotourism model. Lubuk Langkap Nature Tourism Village, South Bengkulu, has excellent natural assets (pristine), such as clear rivers and tropical forests, supported by good social capital. However, this potential is structurally constrained by a Severe Institutional Crisis within the Village-Owned Enterprise, marked by informal management, lack of standard accounting, and vulnerability to moral hazard risk (misconduct). The Main Thesis asserts that this institutional crisis is not merely a technical issue but a major root problem that weakens Social Capital, damages community Capability, and risks permanent environmental damage. The study uses in-depth strategic analysis focusing on the New Institutional Economics and an integrated SWOT framework, employing interpretive descriptive qualitative methods. The analysis formulates an integrated Community-Based Ecotourism development strategy within a Governance framework that is Strengthened by Risk a system designed to become more resilient when facing shocks (moral hazard risk). The Integrated Action Strategy includes: (1) Establishing Exclusive Village-Owned Enterprise Regulatory Control Rights over the entrance gate and Environmental Carrying Capacity; (2) Implementing a physical Daily Public Financial Dashboard to prevent misconduct; and (3) Legalizing Village Regulations (Perdes) on Conservation Zoning and Maximum Daily Visitor Limits. Implementing a Niche Premium Operational Business Plan (OBP), detailing a High Pricing Strategy (including a Conservation Fee) and a fair Proportional Revenue Sharing Formula, is key to achieving improved welfare and ecological sustainability in South Bengkulu.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Adisasmita, R. (2013). Pengelolaan desa wisata: Analisis kelembagaan dan strategi pengembangan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Ariyanto, S. (2022). Penerapan konsep carrying capacity dalam pengelolaan ekowisata air terjun: Studi kasus di Jawa Barat. Jurnal Ilmu Lingkungan, 20(1), 45-60.

Bakri, Y. (2024). Analisis dampak alokasi dana desa terhadap peningkatan kesejahteraan multidimensi masyarakat. Jurnal Pembangunan Daerah, 16(3), 110-125.

Ceballos-Lascuráin, H. (1996). Tourism, ecotourism and protected areas: The state of nature in South America. Gland, Switzerland: IUCN. https://doi.org/10.2305/IUCN.CH.1996.7.en

Dewi, N. A. (2023). Analisis kebijakan pemerintah daerah dalam pengelolaan structural bottleneck infrastruktur pariwisata. Jurnal Kebijakan Publik Indonesia, 3(2), 88-105.

Dharma, S. (2022). Analisis risiko moral hazard dan mitigasinya pada lembaga keuangan mikro desa. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam, 10(1), 30-45.

Gani, S. (2024). Implementasi peraturan desa dalam perlindungan sumber daya air komunal: Studi kasus di Sumatera. Jurnal Hukum Lingkungan, 8(2), 65-78.

Hastuti, H., Maulana, H. F., Mahyudin, M., & Rahim, A. (2024). Pengembangan pariwisata berbasis community based tourism pada desa wisata Waburi Park Buton Selatan. Journal Of Human And Education (JAHE), 4(1), 545-550.

Hidayat, R. (2022). Peran juru bahasa lingkungan dalam peningkatan kualitas interpretasi ekowisata. Jurnal Pendidikan dan Interpretasi Alam, 12(4), 210-225.

Lubis, H. (2020). Ekonomi kelembagaan: Teori dan aplikasi pada pembangunan desa. Jakarta: Kencana.

Mukti, A. (2024). Dinamika pengembangan desa wisata di Indonesia: Analisis sistematik tentang pendorong, tantangan, dan dampak. Jurnal Pembangunan Nagari, 10(1), 20-37.

Mulyono, D. (2023). Studi kasus tata kelola keuangan transparan BUMDes: Analisis kelembagaan di Provinsi Bengkulu. Jurnal Akuntabilitas Publik Daerah, 9(1), 1-15.

Mustofa, D., dkk. (2019). Kelemahan institusional BUMDes dan implikasinya terhadap kesejahteraan masyarakat desa. Jurnal Ekonomi Pembangunan, 17(2), 120-135.

Ostrom, E. (1990). Governing the commons: The evolution of institutions for collective action. Cambridge: Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/CBO9780511807763

Purnomo, A. (2024). Analisis kualitas air sebagai indikator kapasitas daya dukung lingkungan ekowisata air. Jurnal Konservasi Sumber Daya Air, 1(1), 1-15.

Putri, R. M. (2024). Analisis strategi pengembangan wisata di Lubuk Langkap guna meningkatkan kunjungan wisata air tawar Kecamatan Air Nipis Kabupaten Bengkulu Selatan. Jurnal Entrepreneur dan Manajemen Sains (JEMS), 5(2), 150-165. https://doi.org/10.36085/jems.v5i2.6485

Rindrasih, S. (2021). Pengembangan SOP standar kebersihan dan pangan lokal untuk ekowisata berbasis komunitas. Jurnal Manajemen Pelayanan, 7(3), 44-58.

Sen, A. (1999). Development as freedom. New York: Anchor Books.

Subekti, I. (2019). Analisis kelayakan bisnis pariwisata niche dengan kendala aksesibilitas infrastruktur. Jurnal Riset Pariwisata, 11(4), 250-265.

Sudarsono, B. (2021). Manajemen destinasi ekowisata berbasis konservasi: Studi kasus daya dukung ekologis. Jurnal Pariwisata Terapan, 5(2), 101-118.

Suroso, A. (2020). Kajian teknik pengelolaan limbah sanitasi bio-septic tank di kawasan wisata air. Jurnal Teknologi Lingkungan, 14(3), 180-195.

Suryono, P. (2023). Model akuntansi sederhana BUMDes berbasis komunitas: Alat pencegahan fraud. Jurnal Akuntansi Desa, 6(1), 15-30.

Trijoko, A. (2023). Peran pemandu ekowisata sebagai interpreter lingkungan dalam konservasi. Jurnal Konservasi Alam, 15(1), 55-68.

Wibowo, A. T. (2020). Integrasi UMKM ke dalam rantai nilai pariwisata berbasis komunitas: Sebuah model bisnis. Jurnal Manajemen Bisnis, 14(2), 89-104.

Yustika, A. (2018). Ekonomi kelembagaan: Dari neoklasik ke institusional. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Zaki, A. (2021). Model pengelolaan keuangan BUMDes yang transparan dan akuntabel. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Publik, 18(3), 200-218.

Downloads

Published

2025-09-30

How to Cite

Alfiansyah, A., Sahroni, A., Marta, I. Y., Saputra, I. T., Pratama, R. A., & Puspitasari, A. (2025). Pengembangan Desa Wisata Alam Lubuk Langkap sebagai Peningkat Kesejahteraan Masyarakat di Bengkulu Selatan. Tamasya : Jurnal Pariwisata Indonesia, 2(3), 222–235. https://doi.org/10.62383/tamasya.v2i3.743