Eksistensi Wayang Golek pada Museum Wayang sebagai Ikon Atraksi Budaya Jawa Barat dalam Kawasan Pariwisata Kota Tua Jakarta

Authors

  • Syifana Mutiara Salsabila Universitas Bina Sarana Informatika
  • Dyah Mustika Wardani Universitas Bina Sarana Informatika
  • Gilang Fahreza Universitas Bina Sarana Informatika

DOI:

https://doi.org/10.62383/tamasya.v3i2.1191

Keywords:

Cultural Attraction, Cultural Tourism, Kota Tua Jakarta, Wayang Golek, Wayang Museum

Abstract

Wayang Golek is one of Indonesia's traditional cultural heritages that represents the cultural identity of the Sundanese people. Beyond serving as a form of entertainment, it embodies historical, educational, moral, and philosophical values that have been passed down through generations. Through its performances, Wayang Golek conveys messages about ethics, leadership, social life, and humanity, making it a valuable medium for cultural education. However, the rapid advancement of information technology, the emergence of various forms of digital entertainment, and changes in modern lifestyles have contributed to a declining public interest in traditional performing arts. These circumstances present significant challenges to preserving the existence of Wayang Golek and maintaining its relevance, particularly among younger generations. Based on this background, this study aims to analyze the existence of Wayang Golek performances at the Wayang Museum as an iconic cultural attraction representing West Java within the Kota Tua Jakarta tourism area. The study employed a qualitative research approach, with data collected through field observations, in-depth interviews, and documentation. The research informants consisted of a bicycle rental service provider operating in the Kota Tua area and two visitors who directly attended the Wayang Golek performance. The collected data were analyzed descriptively to provide a comprehensive understanding of the role of Wayang Golek performances in preserving local cultural heritage, enhancing public appreciation of traditional arts, and strengthening the appeal of cultural tourism in the Kota Tua Jakarta heritage destination.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Djohari, N., Setiawan, M. N., & Liauw, F. (2022). Penerapan Teknologi Interaktif Display dalam Perancangan Interior Museum Wayang Jakarta. Mezanin, 4(2), 73–82.

Febrianti, S. N., & Fauzi, A. R. (2023). Makna Simbolik Seni Wayang Golek (Studi Kasus : Kecamatan Sukadana Kabupaten Ciamis Jawa Barat). Jurnal Rupa, 8(2), 95–104.

Gultom, S. Y., & Tarwiyani, T. (2025). DEKONSTRUKSI PERAN MUSEUM SEBAGAI SUMBER BELAJAR DALAM DECONSTRUCTION OF THE ROLE OF MUSEUMS AS A LEARNING RESOURCE IN LOCAL HISTORY LEARNING IN HIGH SCHOOL PENDAHULUAN Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2013 , pendidikan harus dilakukan secara interaktif , inspiratif , menunjukkan kreativitas , inisiatif , dan kemandirian , sesuai dengan bakat , minat , dan perkembangan fisik dan psikologis mereka . Memanfaatkan museum sebagai sumber pembelajaran sejarah dalam situasi ini adalah langkah yang strategis untuk mencapai tujuan tersebut . Pemerintah sangat penting dalam mendukung penggunaan museum sebagai tempat untuk belajar tentang sejarah . Situs web sejarah dapat digunakan secara efektif sebagai sumber pembelajaran jika dijaga dengan baik . Museum tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan artefak , tetapi juga sebagai tempat pendidikan yang memberikan siswa pengalaman belajar yang nyata dan relevan . Dratriarawati ( 2014 ) menyatakan bahwa situs sejarah sangat penting untuk belajar . Pendidikan sejarah sangat penting untuk membentuk kesadaran historis dan identitas kebangsaan siswa . Pengenalan terhadap sejarah lokal sangat penting dalam pendidikan sejarah karena membantu siswa memahami konteks sosial , budaya , dan politik di lingkungan mereka . Sejarah lokal memperkuat identitas budaya dan melestarikan tradisi dan warisan budaya lokal ( Suryanegara , 2016 ). Namun , sejarah lokal seringkali hanya dipelajari dalam jumlah kecil dan tidak terintegrasi dengan baik dalam kurikulum nasional SMA , yang lebih menekankan pada cerita sejarah nasional yang sentralistik ( Kartodirdjo ,. 10(1), 49–65.

Ii, B. A. B., & Umum, T. (2018). 160116584_Bab 2. 13–54.

Marsaid, M. (2016). Islam Dan Kebudayaan: Wayang Sebagai Media Pendidikan Islam Di Nusantara. Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, 4(1), 101–130. https://doi.org/10.21274/kontem.2016.4.1.101-130

Michelle, K., & Agoes Tinus Lis Indrianto. (2025). Penerapan Prinsip Ekowisata Dalam Pengembangan Destinasi Pariwisata Berkelanjutan Pada Taman Hutan Raya Pakal Surabaya. Jurnal Sains Terapan Pariwisata, 10(3), 189–201. https://doi.org/10.56743/jstp.v10i3.540

Novita Widyastuti*, Fetty Asmaniati, R. C. (2024). PENINGKATAN POTENSI KOMUNITAS KOTA TUA DALAM PENGEMBANGAN DAYA TARIK WISATA DI KOTA TUA, PROVINSI DKI JAKARTA. 2(2), 306–312.

Patabang, M., Nabila, S. A., Hardjanto, & Iswati, A. (2023). Motivasi Pengunjung Terhadap Pengembangan Wisata Budaya Di Kota Tangerang Selatan Provinsi Banten. Jurnal Sosial Terapan, 1(1), 12–17. https://doi.org/10.29244/jstr.1.1.12-17

Perpustakaan, J. (2024). PERAN MUSEUM DALAM PELESTARIAN SEJARAH DAN BUDAYA MASYARAKAT Abdullah Faqih Batubara 1 Prodi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial, UIN Sumatera Utara Medan. JAPRI (Jurnal Perpustakaan Dan Informasi), 6(2), 41–50.

Riset, J., & Fitriani, D. A. (2026). T i p s. 4(1), 49–58.

Rizki Nurul Nugraha, P. H. (2023). Analisis Konsep 3a Dalam Pengembangan Wisata Kota Tua Rizki Nurul Nugraha 1 , Prama Hardika 2 1,2 Universitas Nasional. Ilmiah, Jurnal Pendidikan, Wahana, 9(10), 531–543.

Rizqullah, M. S., Fadhilah, N. P., Alhakim, I. A., Regitha, N., Khoerunisa, H. F., & Maulidziani, S. A. (2026). WAYANG GOLEK GIRI HARJA SEBAGAI REPRESENTASI. 06(01), 1–10.

Saputra, E., Avrilya, I., Alfadilah, S., & Pujiastuti, W. (2026). Analisis Daya Tarik Museum Sonobudoyo Sebagai. 01(01), 39–43.

Seramasara, I. G. N. (2019). Wayang Sebagai Media Komunikasi Simbolik Perilaku Manusia Dalam Praktek Budaya Dan Agama Di Bali. Mudra Jurnal Seni Budaya, 34(1), 80–86. https://doi.org/10.31091/mudra.v34i1.640

Subagya, T. (2013). 1483-4339-1-Pb. 11(2), 266–274.

Downloads

Published

2026-06-30

How to Cite

Syifana Mutiara Salsabila, Dyah Mustika Wardani, & Gilang Fahreza. (2026). Eksistensi Wayang Golek pada Museum Wayang sebagai Ikon Atraksi Budaya Jawa Barat dalam Kawasan Pariwisata Kota Tua Jakarta. Tamasya : Jurnal Pariwisata Indonesia, 3(2), 119–131. https://doi.org/10.62383/tamasya.v3i2.1191